Review Film Kulari ke Pantai – Mengenal Karakter Manusia dari Perjalanan

“Ada yang mau nonton Kulari Ke Pantai nggaak?” ajak salah satu teman di grup Whatsapp. Gue yang sama sekali nggak tahu tentang film tersebut langsung deh buka Instagram, search hashtag #KulariKePantai ((jiwanya super netijen)). Sekali liat informasinya, gue langsung mengiyakan nonton film Kulari ke Pantai dan sangat berekspetasi kalau film ini bakalan bagus banget! Dan di postingan ini gue bakalan lebih ngebahas karakter dua tokoh utamanya yang sangat menarik untuk ditelaah 🙂

Sinopsis Film Kulari ke Pantai

Film ini merupakan hasil buah karya Miles Production! Nah pasti langsung keinget film Petualangan Sherina deh. Anak tahun 90an mana yang nggak kenal sama film produksi Mira Lesmana dan Riri Riza tersebut? Sama seperti film kakak terdahulunya, Kulari ke Pantai ini film dengan tema keluarga dan targetnya untuk anak-anak.

Samudra, diperankan oleh Maisha Kanna adalah tokoh utama film ini.  Seorang anak perempuan yang besar di tanah Rote Nusa Tenggara Timur, digambarkan sebagai anak yang ceria, hobi surfing, cinta pantai, dan petualangan. Tapi Sam bukan tipikal anak yang aktif di Instagram. Bayangin kalo dia anak Instagram, keseluruhan film ini bakal nyeritain pengalaman dia sebagai travel influencer dengan berbagai angle foto dan hashtag :p

Sam, si anak petualang

Kepribadian Sam yang nggak begitu mentingin eksistensi di dunia maya berbanding terbalik banget dengan sepupunya, Happy, yang diperankan oleh Lilli Latisha. Happy yang lahir di Ibu Kota ini, menggambarkan potret anak gaul seutuhnya. Ngomongnya campur-campur Indonesia-Inggris, full code switching dengan logat naik turun ala anak Jakarta. Happy juga punya geng namanya Glam Girls. Sebuah geng dimana seseorang nggak bisa jadi dirinya sendiri dan cuma ikut arus pergaulan demi diterima oleh society.

Cerita dimulai ketika Sam dan Ibunya (Mama Uci, diperankan oleh Marsha Timoty) punya rencana road trip dari Jakarta menuju Banyuwangi naik mobil. Dimana nanti Sam bakalan ketemu sama surfer favoritnya di Banyuwangi. Fyi, Banyuwangi itu memang terkenal dengan spot surfingnya, yaitu pantai G-land. Banyak surfer nasional atau internasional datang ke Banyuwangi untuk aktivitas surfing.

Sam, yang punya jiwa my trip my adventure, pasti seneng banget dong! Secara nge-trip nya santai naik mobil plus mengunjungi banyak tempat sepanjang Jawa, pasti bakal banyak cerita dan pengalaman yang dirasakan.

Princess Happy yang jarang ngerasa happy

Nah nyokap nya Happy nih keidean buat nyuruh Happy ikut road trip Mama Uci-Sam. Dengan tujuan sifat sok kota dan songongnya Happy bisa berubah. Kayaknya sang nyokap tuh penganut quotes tumblr yang penuh motivasi deh..

:)) :)) :)) 

Lalu apakah Sam setuju dengan rencana ngajak Happy ikut road trip?
Tentu aja nggak! Baru ketemu aja udah sering berantem, apalagi nge-trip bareng?

Tapi dengan bujukan dan nasihat Mama Uci, akhirnya Sam memperbolehkan Happy ikut. Dengan satu syarat, apapun yang terjadi, Happy nggak boleh jadi halangan Sam buat ketemu surfer favoritnya.

Film Anak dengan Bumbu Masalah “Society”

Lewat travelling, kita bisa lebih mengenal karakter diri sendiri dan orang lain. Perbedaan karakter ini yang menurut gue jadi bagian menarik dari film Kulari ke Pantai.

Sam, sepanjang perjalanan sibuk menikmati pemandangan, bercerita, bahkan memberikan komentar tentang apa yang dilihatnya. Jangan salah, Sam juga rajin foto-foto kok, tapi dia mengabadikan semua moment liburan lewat foto polaroid. Jadi dia gak perlu ribet mikirin filter dan caption supaya fotonya banyak di-like :p.

Happy, anak ini nggak pernah lepas dari handphone! Sibuk instastory, chat haha-hihi dengan temannya di grup, pokoknya keliatan nggak menikmati perjalanan deh.

Dari kedua hal ini aja udah jelas banget kan perbedaan letak kebahagiaan dua anak ini? Sam yang nggak peduli dengan media sosial dan Happy yang sangat tergantung dengan media sosial.

Masalah lain yang ditunjukkan adalah cara berbahasa. Happy ini jago banget bahasa inggrisnya, bahkan sampe pegel sendiri dengernya karena ngomongnya campur-campur. Ini ada sisi negatif dan positifnya sih. Positifnya, Happy jadi gampang komunikasi dengan foreigner. Negatifnya, Happy dianggap nggak cinta dan bangga dengan bahasa sendiri (hmm apakah kalian setuju? haha).

Lalu ada satu hal lagi yang bikin gue meringis. Si Happy ini kan punya geng Glam Girls yang selalu kompak kemana-mana dan pastinya kalau ngomong pake bahasa gado-gado. Lalu ceritanya mereka janjian mau konseran bareng padahal Happy nggak begitu suka sama artisnya. Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini:

Sam: Kalau kamu nggak suka, kenapa harus nonton?
Happy: Ya gapapa. Kan biar keliatan seru bareng-bareng aja nonton sama temen se-geng!

Hmm liat kan? Anak sekecil itu udah kejebak trend society yang kemana-mana harus bareng walaupun sebenernya nggak suka.

Jadi inget kata-kata Rangga di AADC 1 deh,
“Iya, nonton harus sama-sama, pulang sekolah sama-sama. Berangkat juga sama-sama. Apa namanya kalo bukan mengorbankan kepentingan pribadi kepentingan yang kurang prinsipil?”

DUH! 😉

Ringan Untuk Anak-anak. Banyak Pelajaran Untuk Dewasa

Mama Uci yang cantik!

Film Kulari ke Pantai memberikan dua cara pandang berbeda untuk anak dan dewasa. Kalau dari segi anak-anak sih, gue yakin kebanyakan fokus dengan cerita dan humor di sela-sela perjalanan road trip. Nggak tahu deh apakah bakal ada yang kepikiran sama masalah pergaulan yang gue ceritain di atas?

Sedangkan untuk orang-orang usia 20++, gue rasa udah cukup paham masalah apa yang ingin diangkat di film ini dan bagaimana supaya anak-anaknya nanti nggak tumbuh seperti karakter Happy :D.

Nggak kok, gue nggak judge anak mainan smartphone, aktif sosmed, dan punya geng itu jelek.

Karena pekerjaan gue sehari-hari di dunia digital dan sosmed, gue tahu banget kalau sosmed masih memiliki sisi positif. Jeleknya adalah kalau anak-anak ini udah kelewat batas dan jadi anti sama hal lain selain eksistensinya di dunia maya. Setuju kan bukibuk? 😉

Salah satu scene di Bromo

Secara keseluruhan gue puas banget nonton Kulari ke Pantai. Mata gue seger karena disuguhkan visualisasi yang oke, ya namanya juga cerita perjalanan pastinya banyak tempat-tempat menarik yang diperlihatkan. Misalnya, pantai di Pacitan, kulineran di pinggir jalan, pasir berbisik, gunung bromo, NTT, sampai Banyuwangi itu sendiri.

Wah jujur sih, film ini berhasil bikin gue kangen liburan!!!

Gue juga suka banget sama actingnya Maisha Kanna dan Lilli Latisha. Sangat pas dengan karakter Sam dan Happy, yang setelah gue gugling dek Maisha Kanna pernah ikutan Idola Cilik 5, The Voice Kids Indonesia, dan Musikal Petualangan Sherina <3

Dear Miles, ditunggu lagi ya film berkualitas lainnya. Ku rindu film anak-anak tema keluarga seperti ini!

Seorang penikmat dan pemberi kata. Bekerja di ranah content dan social media. Suka nulis untuk menuangkan pikiran yang hobi menggeliat di otak.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *