Review Coco: Ketika Impian Dihalangi Oleh Trauma Masa Lalu

Beberapa minggu kemarin timeline IG Story gue rame banget sama film Coco. Sebagian besar mengeluarkan reaksi yang sama “duh mewek deh nonton Coco!” “gila gila gilaaaa bapeeerr banget gara-gara Coco” “wajib banget nonton Coco!! Air mata berlinangan huhuhu”. DOR! Penasaran kan gue. Sebagus apa sih nih film?

Begitu tau kalau film ini adalah hasil karya emasnya Disney Pixar, gue yakin kalau nggak akan dikecewakan secara visual. Gue selalu jatuh cinta dengan semua film Studio Pixar. Lalu apakah Coco berhasil menggeser posisi pertama film animasi favorit sepanjang masa versi gue, Toy Story? 😉

Sekilas Tentang Film Coco

Coco adalah film animasi yang mengusung tema budaya Amerika Latin, tepatnya Meksiko. Penggambaran budaya Meksiko sangat kental di dalam film ini, dari mulai musik latin, karakter wajah, sampai logat bicara. Sepanjang gue nonton Coco itu berasa lagi di Meksiko deh :p. Ada satu hal yang baru gue sadari setelah nonton Coco, ternyata sama seperti Indonesia, budaya latin sangat family oriented atau dengan kata lain keluarga adalah nomor satu.

Hubungan erat antar keluarga menjadi garis merah film Coco. Digambarkan dengan jelas bahwa sangat penting untuk tetap mengingat keluarga yang telah tiada, karena akan berpengaruh dengan kehidupannya setelah meninggal. Sisi sentimentil dalam keluarga inilah yang berhasil menguras emosi dan air mata para penonton.

Sinopsis Film Coco

Miguel Rivera, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dari keluarga Rivera memiliki cita-cita menjadi musisi. Layaknya anak seusianya, Miguel punya idola yang sangat dibanggakan dan menjadi sumber inspirasi dalam bermusik, Ernesto de la Cruz.

Belajar musik dari sang idola, Ernesto de la cruz

Sayangnya Miguel tumbuh di keluarga yang sangat menentang musik. Terlebih dari sisi sang nenek, Mama Abuelita. Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa keluarga Rivera membenci musik. Usut punya usut, ternyata kakek buyut Miguel adalah musisi terkenal di Meksiko, saking cintanya dengan musik, kakek buyut ini pergi demi meniti karir dan meninggalkan keluarga. Sepeninggalan kakek buyut, keluarga Rivera jadi berantakan dan sejak itulah, mereka mengharamkan musik di dalam budaya keluarga.

Walaupun dilarang dalam bentuk apapun, semangat Miguel dalam bermusik tidak padam. Ia melakukan segala cara agar impiannya tercapai. Sampai pada akhirnya ia memutuskan kabur dari rumah dan terjebak di dalam Land of The Dead (Dunia Kematian) karena nekat mencuri gitar Ernesto de la Cruz di makamnya.

Nah di Dunia Kematian inilah dimulai petulangan Miguel yang sebenarnya. Bahkan misteri tentang kakek buyut Miguel yang pergi begitu saja dan perjalanan karir Miguel sebagai musisi, terkuak di Dunia Kematian.

Jadi… Film Coco Wajib Ditonton Atau Nggak?

Gemerlapnya Dunia Kematian di film Coco

WAJIB! Lo akan disuguhkan oleh banyak warna dan visual animasi yang full colour dan….BAGUS BANGET. Saat setting tempatnya di negara Meksiko, warna-warna hangat seperti cokelat, orange, dan kuning yang mendominasi. Tapi ketika pindah ke Land of The Dead, nuansanya berubah ke warna-warna futuristik, didominasi oleh ungu gelap, biru tua, pink neon, dan emas. Dunia kematian versi Coco ini gemerlap banget deh :p

Karakter utama Miguel Rivera juga sukses bikin jatuh cinta. Miguel digambarkan sebagai anak yang ekspresif dan speak up. Ia juga berani mempertahankan pendapat walaupun hal itu mengantarnya ke dalam bahaya.

Kalau untuk soundtrack sih nggak perlu diraguin lagi ya. Siapa sih yang nggak suka dengan hasil produksi Disney? Ada dua lagu yang sangat membekas di telinga gue setelah nonton film Coco:

Remember Me– Versi ballad dari lagu ini yang bikin sedih

Un Poco Loco– Seru banget lagunya! Jadi inget Amigos 😀

Film Coco disutradai oleh Lee Unkrich yang juga pernah menggarap Toy Story 3. Sama seperti Toy Story, Coco dapat menyentuh sisi sensitif tentang kehilangan dan perpisahan. Film Coco juga mengandung pesan kalau tidak selamanya hal yang kita anggap benar adalah yang terbaik untuk kedepannya, maka belajarlah untuk melihat dari berbagai sisi 🙂

*note: jangan kaget kalau sebelum Coco dimulai akan ada suguhan film pendek persembahan temen-temen Arandelle. Hi Olaf, Anna, Elsa!

Hi, Anna! Hi, Elsa!

Tulisan ini menarik untuk dishare!

3 comments / Add your comment below

Leave a Reply